Warga Gajah Baureno Menolak Tanah Wakaf Dari MWC NU Baureno Dijadikan Makam Warga Babat

0

Transbojonegoro.com – Pemerintah Desa Gajah, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro mendiasi terkait adanya polemik tanah wakaf yang akan dijadikan makam oleh warga Babat yang posisi tanah berada di wilayah Desa Gajah. Ada sekitar 75 warga yang hadir menolak penggunaan tanah wakaf tersebut di jadikan makam umum orang Babat dengan mendatangi Balai Desa Gajah pada, Senin (25/10/2021).

Mediasi ini terkait penggunaan tanah wakaf yang akan dijadikan tanah makam oleh MWC NU Baureno selaku penerima wakaf. Dalam mediasi tersebut dihadiri oleh Forpimcam Baureno, KUA Baureno, Polsek Baureno, Koramil Baureno, Satpol PP Baureno, perwakilan MWC NU Kecamatan Baureno, dan Pemdes Gajah.

Dalam mediasi tersebut petugas pecatata tanah wakaf dari KUA Baureno menjelaskan bahwa tanah seluas 3200 meter persegi tersebut yang berada di Desa Gajah adalah tanah yang sudah di ikrarkan dalam wakaf, dan sudah tercatat di BPN Bojonegoro oleh MWC NU sebagai penerima wakaf oleh pemilik sebelumnya H. Hasim warga Gajah sebagai tanah makam.

” Saya selaku pembuat ikrar akta wakaf, saya menjelaskan bahawa tanah itu sudah menjadi ikrar wakaf yang tercatat di Badan Pertanahan Nasional ( BPN) Bojonegoro, ” tutur Kepala KUA Kecamatan Baureno.

Selanjutnya MPC NU juga menyampaikan bahwa tanah wakap tersebut terjadi pada ikrar ijab kabulnya wakaf pada tahun 1991 oleh H. Hasim pada MWC Baureno. Dan sudah dituangkan dalam bentuk sertifikat ke BPN.

“Semakin cepat amanat tersebut terlaksana semakin bagus karena yang memberi wakaf tanah tersebut untuk menjadi tanah makam sudah meninggal makan lebih cepat terlaksana. Permasalahan di dunia itu bisa diselesaikan selama di musyawarahkan dan ada titik temu. Dan silahkan dimusyawarahkan karena MWC NU sebagai pihak yang diberi amanat wakaf,” tutur Ketua MWC NU Baureno.

Baca :    Wakil Bupati Budi Irawanto Memberikan Apresiasi dan Semangat Seluruh Pegawai DPMPTSP

Warga sekitar atas nama Mashadi salah satu peserta yang hadir di Balai Desa menyampaikan, “Kenapa masyarakat setempat tidak dilibatkan dalam pembuatan sertifikat wakaf yang akan di buat makam tersebut,” tanya Mashadi.

Selain itu Saiqu juga salah satu warga Gajah dalam forum tersebut mencoba menengahi penolakan tanah wakaf yang ada di wilayah Desa Gajah dan akan di jadikan makam oleh warga Babat tersebut dengan meminta dalam proses tanah wakaf yang akan dijadikan tanah makam tersebut transfaran dalam pelaksaanya.

“Pertemua-pertemua ini akan terus berlanjut dan tidak akan mendapatkan titik temu selama pemangku kepentingan tidak menjelaskan secara transfaran,” tutur Saiqu.

Selanjutnay Sekretaris Kecamatan Baureno menjelaskan. “Dalam isi surat wakaf tersebut berisi bahwa tanah tersebut keteranganya untuk makam umum. Bila masyarakat menolak silahkan mengajukan gugatan kepengadilan. Yang jelas karena isi surat tersebut berisi untuk makam umum,” tutur Kholil Sekcam Baureno.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Desa Gajah Muhhamad Wahyudi menyampaikan bahwa jangan sampai permasalahan ini menibulkan masalah baru.

“Maka nantinya untuk permasalahan ini harus ada perwakilan masyarakat untuk mediasi, dan nantinya baru di musyawarahkan. Intinya masalah ini kita bicarakan. Kita manut sesuai perintah soal tanah wakap ini,” tutur Kades.

Sampai acara mediasi selesai antara MWC NU dan masyarakat terkait polemik tanah wakaf yang akan dijadikan tanah makam di Desa Gajah tersebut belum menemukan titik temu. Dari MWC NU Baureno berpacu dengan sertifikat wakaf dengan keterangan tanah tersebut sebagai tanah makam. Sedangkan puluhan warga Desa Gajah tersebut menolak dengan mengacu tentang letak rencana tanah wakaf yang akan dijadikan makam oleh warga Babat, dekat dari sumber mata air, dan masyarakat menuntut tanah wakaf tersebut di tukar guling atau dijadikan selain makam.***(Eko Cahyono).

Baca :  Siapapun Diajak Komunikasi Tanpa Terkecuali Oleh Kapolres Bojonegoro Menyampaikan Kamtibmas